

Haji Ahmad Yudhistira telah membuka mata kita. Ada jalan lain untuk merakit mimpi jadi pembalap MotoGP. Yudhis, demikian ia biasa dipanggil, lewat IndoProm mencoba seleksi event Red Bull MotoGP Rookies Cup (RBMRC) 2009 di sirkuit Adria di Italia. Seperti kata Bambang Gunardi, yang berperan dalam perjalanan Yudhis, untuk bisa ikut ke RBMRC tidak terlalu sulit. Dan yang terpenting, tanpa biaya!
Seperti keterangan Bambang Gunardi, panitia RBMRC tidak memungut biaya untuk calon pesertanya. Semua biaya selama tes disediakan oleh Red Bull.
"Kita hanya perlu menyiapkan ongkos ke lokasi tes. Mulai dari transport dan akomodasi plus persiapannya," jelas Bambang yang punya akses untuk membantu pendaftaran ke RBMRC.
Dari situ sebenarnya RBMRC jalan yang paling murah mencari prestasi dunia. Sebab, masih kata Bambang, biaya baru keluar kalau memang terpilih. Balap akan diselenggarakan di negara-negara Eropa yang menyelenggarakan event MotoGP.3156bambang-gunardi--gt.jpg
"Tapi bukan biaya buat balap. Ini ongkos untuk perjalanan dan untuk hidup selama musim balap. Sebab, motor dan kebutuhan tim termasuk kru tim, dan lain lain disediakan promotor. Hanya, kita tidak boleh bawa atribut apapun. Karena badan motor dan pembalap sudah dipasang sponsor dari panitia," lanjut Bambang.
Panitia hanya mensyaratkan calon peserta kudu rajin buka internet. Sebab pendaftaran awal dilakukan via situs www.redbullrookiescup.com.
Menurut Bambang, pendaftaran RBMRC hanya dibuka sekali dalam setahun. Biasanya pada bulan Agustus atau September. Dan pendaftaran ada batas waktunya. Jika sudah habis, mereka akan tutup akses untuk melihat formulirnya.
Ajang RBMRC disebut sebagai langkah penting yang bisa dilakukan untuk ke MotoGP. Makanya, "Dari tahap pendaftaran saja, panitia sudah menguji keseriusan calon peserta. Mereka harus mau mencari informasi pendaftaran dan menepati batas waktu pendaftaran selama persiapan," bilang Bambang yang langganan jadi juri di MotoGP itu.
Syaratnya terlihat mudah. Tinggal klik situs dan lihat formulir aplikasinya. Lalu isi semua pertanyaannya. Yang penting syarat usia, minimal 12 tahun dan maksimal 16 tahun! Kalau kurang atau lebih dari itu, sebaiknya jangan daftar. Sebab pasti langsung dieleminasi. Kalaupun ada kelonggaran, panitia akan mewawancara lagi, kenapa si calon merasa layak masuk RBMRC.
"Kalau ada yang usianya sudah 17 tahun mungkin masih bisa. Tapi, ia hanya bisa ikut setahun. Sebab usia 18 harus sudah keluar dari Red Bull MotoGP," jelas Bambang yang berkacamata itu.
Seleksi sudah dilakukan sejak pendaftaran via internet. Tahun ini saja ada sekitar 500-an aplikasi yang masuk. Hanya 40 yang dipanggil. Dan, dari 40 itu, cuma 7 dipilih untuk ikut seri RBMRC. Ketujuh rookies itu akan bergabung 18 rookie yang sudah ada dari tahun sebelumnya.
Begitu lolos seleksi pendaftaran dan diundang tes, semua tergantung dari kemauan si calon rookies. Panitia penyeleksi akan melihat niat mereka. Sebab, bukan sekadar kemampuan dan pengalaman balap yang dilihat. Tapi performa bersama motorlah yang diutamakan.
"Kuncinya pada bakat, ambisi untuk jadi pembalap dunia. Dan yang terpenting, penyeleksi akan melihat apakah calon rookies punya bensin di aliran darah calon rookies," tegas Bambang.
Selama tes, peserta diwajibkan membawa sendiri perlengkapan balapnya sesuai standar internasional yang ditentukan FIM dan Dorna.
YUDHIS SUDAH MEMESONA DORNA
Haji Yudhistira memang gagal ikut Red Bull MotoGP Rookies Cup 2010. Tapi, perlu diketahui perjalanan Yudhis, sapaan pemuda 16 tahun itu selama tes.
Yudhis dan 35 peserta dari Argentina, Austria, Belanda, Brazil, Inggris, Irlandia, Italia, Malaysia, Selandia Baru, Spanyol, Polandia, Russia, USA, dan Venezuela. Semua diberi nomor 1-39, dibagi 5 grup. Empat grup diisi 7 rider. Sedang grup E berisi 8 joki. Yudhis kebagian nomor 20 masuk grup C.
Seleksi bukan berdasarkan best-lap. Panitia memilih joki yang tepat, bukan yang tercepat. Sebab tercepat tak mencerminkan jadi rider paling tepat di Red Bull Rookies Cup. "Dilihat bakat, kemampuan dan kecepatan beradaptasi dengan motor. Juga tingkah laku dan disiplin selama tes diperhatikan," urai Eko Reksodipuro yang menemani Yudhis selama tes di Italia.
Yudhis jalani 3 tahap tes. Hari pertama, ada cek kelengkapan balap. Mulai helm, baju balap, sarung tangan dan sepatu. Hari kedua, diperkenalkan merakit motor 125cc. Lalu 2 kali geber motor di sirkuit. Sesi pertama, pagi Yudhis jatuh saat sighting-lap. "Cuaca dingin banget, 12°C. Tak ada matahari dan berkabut. Banyak pembalap lain jatuh pas sighting lap. Sesudah jatuh masuk pit karena tongkat pemindah gigi patah. Setelah itu nggak ikut sesi selanjutnya," kisah Yudhis.
Sesi kedua membaik. Ia dapat imbangi kemampuan rider lain di grupnya. Catatan waktunya dari 1;39,00 detik, jadi 1;36,26 detik. Di sesi ini, waktu terbaik 1;31,86 detik. "Selesai sesi ini sebagian pembalap diambil ukuran baju balapnya oleh official dari Red Bull. Yudhistira termasuk salah satunya. Ini tanda sampai sesi itu Yudhis masuk kandidat," papar Eko.
Nasib berkata lain di sesi III. Awalnya Yudhistira oke. Ia klop dengan motornya dan tunjukkan kelebihan di beberapa sektor sirkuit. Sayang di hairpin, Yudhis jatuh pas keluar tikungan. Footstep-nya patah, tak dapat lanjutkan sesi ini.
"Riding style dan bakat Yudhistira menarik dan bagus. Tapi official Red Bull masih perlu melihatnya lebih lama lagi di atas motor. Makanya kami undang Yudhistira ikut seleksi tahun depan," Mr. Carlos Pratola dari Dorna.
Artinya, masih ada kesempatan buat Yudhis dan pembalap Indonesia lainnya!












